Sebungkus Kopi 2 In 1 Dengan Satu Sendok Gula

Maret 16, 2012 0 Comments A+ a-

Kupandangi rerintikan air musim penghujan, dari kursi mengemudi. Sesekali tanganku menghapus jejak embun yang berada di atas kaca, ketika kehadirannya telah mengganggu ratapanku keluar mobil. Seakan tak mempedulikan kegelisahanku, gumpalan awan mendung itu pun tak kunjung meredakan pasukan airnya yang telah turun sejak dua jam yang lalu. Langit yang tadinya jingga, kini telah legam menjadi hitam.

Aku memang tidak benar-benar menghitung setiap detik yang berlalu semenjak kuhentikan mobil ini. Tetapi sudah sejak tadi pula mataku senantiasa menyergap jam tangan hitam yang melingkar di pergelangan kiriku, hampir setiap detiknya. Aku tidak mengerti apa yang kulakukan. Aku hanya menggerakkan bola mata dan tanganku secara bersamaan, guna memastikan kedua jarum itu berfungsi dengan benar. Aku benar-benar bosan! Tapi apa yang bisa kulakukan di dalam sini? Menghentak-hentakan kesepuluh jariku dengan tidak sabar di atas setir? Aku sudah melakukannya sebanyak dua puluh delapan kali. Dan tak ada yang berubah.

Lalu bagaimana dengan musik? Tanyaku pada diri sendiri. Bukankah musik mampu menenangkanmu? Sama seperti apa yang dilakukan Karmel untukmu.





Karmel…

Tentu saja, wanita itu selalu bisa melakukannya. Setiap kali ia memasuki mobil ini, dari kursi itu jemari lentiknya mulai menjamahi koleksi CD kesukaannya yang sengaja diletakkan di sini. Tak jarang pula ia harus menguras pikirannya, hanya untuk memilihkan lagu-lagu terbaik untuk perjalanan kami.

Tanpa basa-basi, segera kubuka dashboard di mana CD-CD tersebut tertata rapi di dalamnya. Namun ketika tanganku berhasil meraih benda itu, beberapa album itu terjatuh berserakan tanpa kuduga. Dashboard itu sangat berantakan. Entah kapan terakhir kalinya Karmel duduk di kursi itu dan memilihkan lagu untukku.

Kupungut 3 CD yang terjatuh tersebut sambil membalik satu per satu albumnya. Beberapa cover album itu ada yang hilang. Tapi aku masih bisa mengenalinya. Salah satunya adalah Heaven of Love milik Ada band. Sedangkan yang ini album milik... err, tunggu… siapa ya? A Twist o My Story? AH! Secondhand Serenade! Ya, tentu saja. Karmel sangat menyukai lagu-lagu rock romance milik John Vasely di album ini. Dan album terakhir, album yang masih utuh dengan gambar sebuah gitar akustik berwarna biru laut, milik… Sabrina?


“Mas, coba tebak! Ini lagu siapa? Jangan bilang kalau kau tidak mengingatnya. Ini lagu daughtry. Terakhir aku mendengarnya ketika kita studytour kelas dua SMA. Ingat? Masih tidak ingat ? Dasar kau ini. Apa yang kau ingat hanya pemain Chelsea saja, hah? Tapi lagu ini bagus kan? Lagu ini di-recycle oleh Sabrina…”


Suaranya, senyumannya, semuanya, masih terasa sama di pikiranku, ketika aku mengingat Karmel. Hanya mengingatnya saja, telah menimbulkan rasa sakit yang teramat luar biasa di dalam sini. Ya, di sini. Tepat di mana perasaan ini berada.

Daughtry? Lagu apa yang dimaksud Karmel? Aku benar-benar memaki diriku karena tak memperhatikan apa yang ia ucapkan dulu.

Kususuri barisan huruf-huruf berukuran kecil di cover belakang album. Sebentar...mataku membaca perlahan itu sambil mengingat-ingat dengan keras. AH! mungkin ini. Ya, pasti ini ! Nomor duabelas. Home. Ini adalah judul lagu yang yang dimaksud Karmel.

Segera kuletakkan lempengan CD tersebut ke dalam DVD Player dan menekan frustasi tombol next meski kutahu bahwa ia sedang loading.


Terdengar suara instrumen gitar akustik di detik-detik pertama. Jemariku tergerak untuk memutar tombol volume menjadi besar. Kini instrumen itu telah benar-benar mengisi setiap sudut di mobil ini, diikuti suara seorang wanita yang sangat nyaman di dengar.

I’m staring out into the night

Trying to hide the pain

Aku mulai memejamkan mataku, mencoba menyamakan irama lagu dengan degup jantungku.

I’m going to the place where love

And feeling good don’t ever cost a thing

Hangat. Sangat hangat. Aku dapat merasakan kehangatan tangannya yang menggenggam jemariku dengan erat. Sangat jelas. Dan aku yakin ini nyata! Tangan milik Karmel ini nyata!

Kupacu kelopak mataku untuk terbuka dan menyergap sesosok yang kini berada di samping kiri kursi mengemudiku.

And the pain you feel’s a differnent kind of pain…

Bukan Karmel. Tetapi memang tak ada siapapun di sana. Aku seorang diri sejak tadi hingga kini. Hanya bahana gerimis yang menghentak atap mobilku dengan keras yang menyaksikan kesepian macam apa ini.




Dengan ragu, kuurungi niatku untuk mengetuk pintu bermodel swing coklat tua, di hadapanku. Berbagai pemikiran tak berujung seakan saling bertubrukan di kepala, hingga menumpulkan logika yang biasa kugunakan. Entah kenapa aku ragu. Yang kutahu, saat ini aku harus mengetuk pintu itu karena seliweran angin malam semakin menggrogoti kulit ariku. Tapi…

Aku membalikkan badanku―membelakangi pintu tersebut, mencoba melupakan maksud awalku berada disini. Mataku mulai mengembara menatap berliter-liter air milik hujan yang telah membuatku seperti sebongkah es batu, karena dapat kupastikan, tak ada sehelai benang pun dari pakaian ini yang masih kering. Aku tak tahan lagi !

Untuk ke tujuh kalinya, aku berbalik kembali menatap pintu besar itu. Sekilas memandang sebuah bel yang terletak di samping pintu, yang sama sekali tak membuatku tertarik menggunakanya. Aku harus mengetuknya! Dan memberanikan diri untuk menghadapi kenyataan yang ada atas kesalahan yang kuperbuat.

Belum sampai pori-pori jemariku menyentuh benda coklat tua itu, pintu tersebut terbuka perlahan. Dari balik pintu berdiri sesosok wanita berambut hitam terurai sebahu, dengan kemeja kebesaran berwarna putih, menatapku dengan terkejut―lebih tepatnya tidak percaya.

I’m going home

Back to the place where I belong

Aku menatap dua bilah matanya tanpa mampu mengeluarkan seonggrok kata pun dari kerongkongan sialan ini. Betapa aku merindukannya. Namun kami hanya saling menatap dan membisu, hingga akhirnya ia memutuskan untuk bersuara.

“Kau sudah pulang?” tanyanya dengan senyum teduh yang mempu mengubah persepsiku, bahwa malaikat sekalipun tak anggup mengalahkan kecantikannya.

“Kau kehujanan lagi? Sudah kubilang jangan lupa bawa payung. Kau ini…” ia menarik lenganku dengan lembut dan menyeretku masuk, tak peduli sebasah apapun kemeja hitam yang kukenakan. “Aku sudah memasak air hangat. Mandilah!” ia segera memberikan sebuah handuk putih yang entah sejak kapan ia pegang, dan mendorong punggungku pelan agar mempercepat langkahku menuju kamar mandi. Sebelum benar-benar menutu pintu kamar mandi, aku sempat melihatnya tersenyum.

And where your love has always been enough for me…

Bagaimana bisa selama ini aku ragu akan Karmel? Dia adalah rumahku. Rumah yang akan selalu menerimaku kembali, sejauh manapun aku meninggalkannya. Tidak pernah berubah. Sama seperti aroma handuk ini. Aroma Bunga Lavender, bunga kesukaannya.


Di dalam sebuah kamar utama dengan wewangian serupa dengan handuk tadi, aku berdiri menghadap jendela. Menghirup aroma kopi khas buatan Karmel yang telah tersedia di atas meja, dengan sepasang pakaian santai yang sudah kukenakan. Mungkin sudah hampir satu minggu aku tak menginjakkan kaki di kamar ini, bahkan di sudut lain di rumah ini. Semua kegelisahan yang selalu mengusikku setiap aku memikirkan Karmel, telah membutakan perasaanu sendiri untuk selalu berada di sisinya. Dan kali ini, sudah ketiga kalinya aku melakukan hal itu. Pergi dari rumah hanya karena pertengkaran batinku sendiri yang tidak sanggup kuungkapkan pada wanita itu. Wanita yang telah kutetapkan menjadi pendamping hidupku selamanya. Karmel.

Terdengar denyit pintu kamar yang terbuka perlahan. Aku tahu itu Karmel, bahkan tanpa aku memastikannya. Kami hanya tinggal berdua semenjak pernikahan kami sembilan bulan yang lalu.

Aku tetap tak bergeming dari tatapanku keluar jendela yang ternyata masih setia menurunkan bulir-bulir hujannya, bahkan setelah seluruh pakaian basahku telah berganti menjadi pakaian kering.

Tiba-tiba sepasang tangan yang hangat memelukku dari belakang. Dapat kurasakan wajah Karmel bersandar teduh di punggung bidangku. Seperti meluapkan rasa rindu teramatnya, ia terus mengeratkan genggamannya. Di antara kami tak ada yang berniat untuk membuka suara, selain ricuhan air hujan yang menampar-nampar kaca jendela sedari tadi. Aku bersyukur, Tuhan masih mengizinkanku untuk merasakan pelukan ini. Aku selalu takut kehilangan dia. Tetapi bodohnya, bahkan aku yang seringkali meninggalkannya seorang diri di rumah ini.

Aku mencoba menyentuh kedua tangannya yang masih terus memelukku. Tetapi dengan cepat ia melepaskan pelukan itu, dan mundur beberapa langkah dariku. Aku terkejut. Kubalikkan badan dan menetapnya heran.

"Addi..." katanya lirih.

Belum selesai rasa terkejutku oleh sikapnya tadi, kini jantungku kembali berderu ketika panggilan itu meluncur dari bibirnya. Kemana panggilan 'Mas' yang biasa ia katakan?

"... Tolong ceraikan aku!"

Be carefull what you wish for

Cause you just might get it all

You just might get it all . . .

Seperti tersambar petir bertegangan sepuluh ribu volt, perkataan itu mampu memati rasakan hampir seluruh syaraf di otakku. Bagaimana bisa kata-kata itu terlontar dari mulut Karmel?

"Apa maksudmu?" aku menatap mata hitam milik Karmel yang mulai menundukkan kepalanya perlahan, mencoba menghindari tatapanku. "Kau bercanda kan? Jangan pernah katakan itu, Mel !"

Kuperhatikan pupil matanya bergerak keberbagai arah seakan menahan airmata yang sulit dibendungnya lagi. Seperti menenangkan gemuruh perasaan yang sama kurasakan, ia memejamkan matanya sepersekian detik, lalu mulai menarik pandangnya ke arah mataku.

And then some you don’t want

"Aku serius," suaranya bergetar dia natara rerintikan hujan di luar sana yang terdengar sampai ke dalam rumah.

Aku mencoba mencari kebohongan dari tatapan indah bola matanya. Tapi tak kutemukan. Aku hanya terus diam. Membisu dengan berjuta-juta pertanyaan dalam benakku yang tak bisa kuutarakan, barang satu di antaranya sekalipun.

"Kenapa?"

"Karena aku tidak mampu menjadi isteri yang baik untukmu. Aku bahkan...telah mengecewakanmu. Menahanmu untuk tetap berada di sini pun aku tak saggup. Aku tidak benar-benar bisa menyelesaikan masalah kita !" ia menaikan satu oktaf suaranya di akhir kalimat itu, bersamaan dengan bulir pertama airmata yang jatuh dari pelupuk matanya.

Seakan menimbang perkataan yang masih bersarang di pikiranku, aku masih diam.

"Aku sadar, tidak ada keterbukaan di antara kita yang dapat mengeratkan hubungan ini. Kita sama-sama diam, di antara masalah-masalah yang seharusnya dapat dengan mudah terselesaikan. Kau tak bisa mengutarakannya, dan aku pun hanya diam saja," Karmel mulai menghapus kasar pipinya yang telah basah karena sungai airmata. "Sudah saatnya hubungan ini berakhir."

"Tidak. Ini bukan salahmu. Ini kesalahanku. Aku yang meninggalkanmu karena keegoisanku. Aku yang menyakitimu. Kumohon maafkan aku." Kudekati Karmel dengan raut wajah memelas.

Ia memandangku dan tersenyum getir, "Tidak, ini salahku. Setiap kali kau pergi dan tak kembali, setiap itu pula aku menghitung kegagalanku sebagai seorang isteri."

Aku tidak tahu apa yang kurasakan ketika mendengar itu dari mulutnya. Bagaimana bisa aku menyakitinya seperti itu selama ini? Karmel sangat menderita dan aku tak menyadarinya!

"Kumohon...maafkan aku," kusentuh kedua pipinya yang begitu hangat dan menghapus jejak airmata yang masih membekas di sana. "Aku akan memperbaiki semua. Aku akan berubah."

Perlahan ia menyentuh kedua tanganku, "Ya, kau akan berubah..." lalu menurunkannya dengan lembut, "...tapi tanpa aku."

Ia berbalik meninggalkanku yang masih terlalu syok dengan keadaan ini, menuju meja rias di mana dulu ia senantiasa menghabiskan waktunya di depan cermin itu. Karmel mambuka salah satu laci, dan mengeluarkan sebuah amplop yang seketika mengundang ketakutan terbesarku selama ini.

"Aku sudah mengisinya, kau hanya perlu menandatanganinya saja. Besok pengacaraku akan mengambilnya pagi-pagi sekali." Ia meletakkan amplop keramat itu di atas meja rias yang bahkan telah kosong tanpa alat make-up miliknya. "Aku letakkan di sini agar kau tak lupa untuk menandatanganinya."

"Aku tidak akan pernah menandatanganinya! Aku tidak ingin bercerai darimu! Mel, aku sangat mencintaimu. Kau adalah satu-satunya wanita yang ingin kunikahi di dunia ini. Jadi bagaimana bisa aku melepasmu?" suaraku melengking hebat di rungan itu, bersamaan mata yang kini terasa begitu perih dan basah.

"Karena itu kau harus menceraikanku," ucapnya dengan tanang sambil berjalan menghampiri sebuah koper merah marun yang entah sejak kapan telah berada di sana. "Satu hal lagi, mulai saat ini, kau tidak perlu lagi pergi dari rumah. Rumah ini milikmu." kini tangannya mulai meraih sebuah payung besar berwarna hitam yang tergantung di sebelah lemari kami―yang mungkin hanya tersisa pakaian milikku saja. "Aku pergi. Jaga dirimu, Die! Jangan pernah pulang dalam keadaan basah kuyub, karena tidak akan ada air hangat lagi ketika kau tiba nanti."

Dengan segera, kutahan salah satu tangannya yang menyeret koper. Kami saling diam dia ambang pintu, hingga akhirnya ia melepas genggamanku dari tangannya. Ketika tanganku benar-benar terhempas, tanpa ragu aku memeluknya. Aku tidak ingin kehilangan dia.

“Kumohon… jangan pergi,” ujarku lirih―nyaris pilu.

Untuk beberapa saat dia bergeming. Samar, kulihat seuntai senyum tersungging dari ujung bibirnya.

“Aku selalu berharap bisa menjadi rumah yang dapat menerimamu dan memberi kesempatan yang lain, seperti lagu Home itu. Tapi aku sadar, aku tidak bisa. Aku… tidak sekuat itu.”

Perlahan aku mulai merenggangkan pelukanku mencoba mencerna ucapannya. Sedangkan ia terus berjalan tenpa berniat memastikan aku di belakang.

Hari ini, senyuman itu menjadi yang terakhir bagiku.

“Sampai jumpa di pengadilan, Die…”




The miles are getting longer, it seems

The closer I get to you

I’ve not always been the best girl or friend for you

But your love remain true and I don’t know why…

Aku kembali membuka mataku dan memperhatikan DVD Player yang masih memutar lagu Sabrina di dalamnya.

You always seem to gave me another try

Mataku kini teralih keluar mobil dan mendapati hujan itu kini telah mereda, dan hanya meninggalkan rerintikan gerimis saja.

Kuamati DVD Player itu lagi, dan bergegas meninggalkan mobil sebelum hujan lebat datang kembali. Aku membuka sebuah gerbang berwarna putih dengan cat terkelupas yang tidak begitu kuhiraukan. Karena rumah ini tidak memliki garasi tertutup,aku terbiasa memarkirkannya di luar. Jika saja hujan tadi nekat kuterobos, aku berani bertaruh bahwa aku akan basah kuyub karenanya.

Kudorong pintu utama dengan gontai, dan seketika kegelapan mulai menarikku untuk memasuki rumah itu lebih dalam. Dengan meraba-raba dinding, akhirnya kudapatkan benda itu tak jauh dari pintu. Sebuah saklar lampu.

I’m going home

Back to the place where I belong

And where your love has always been enough for me

Aku mengamati sekeliling rumah yang nampak tak jauh berbeda dari sebuah kapal pesiar yang baru saja diterpa badai.

Kuarahkan kakiku ke arah ruang tengah dan menghampiri sebuah benda yang terletak di atas meja. Semerbak, wewangian aromaterapi Lavender tercium jelas di ruangan itu.

“Kau sudah pulang? Bagaimana harimu tadi?” sebuah suara tiba-tiba muncul dan menggema di seluruh sudut ruangan. Suara Karmel.

Aku hanya tersenyum seraya melonggarkan dasi hitam polosku, dan melangkah menuju dapur.

“Hujan turun sangat deras sedari tadi, dan seperti biasa, aku lupa membawa payung,” jawabku sambil mengambil sebuah mug putih bertuliskan namaku juga nama Karmel. Sisa souvenir pernikahan kami dulu.

“Kau tahu, Mas? Tadi pagi klinikku kedatangan seorang pasien anak perempuan berumur empat tahun. Dia sangat lucu sekali. Setiap melihat matanya, aku jadi teringat akan boneka barbie pemberianmu saat ulangtahunku ke delapanbelas dulu. Boneka itu kuletakkan dimana ya?”

Aku menuangkan sebungkus kopi 2in1 ke dalam mug, diikuti sesendok gula dan air panas yang kuambil langsung dari dispenser. Sambil mengaduknya, aku melangkah kembali ke arah ruang tengah.

I’m not running from

No, I think you got me all wrong

“Ya, kau telah menceritakan itu padaku, dan ini sudah ke tiga puluh dua kalinya,Mel.” Aku tersenyum sambil mendudukan diri di atas sofa.

“Kupikir gadis itu keturunan eropa, tapi setelah aku…” suara Karmel seketika terhenti, bersamaan dengan kutekannya salah satu tombol yang terdapat di recorder.

Seperti biasa, dia wanita yang sangat cerewet.

I don’t regret this life I chose for me

Kuperhatikan sebingkai foto berukuran cukup besar yang yang terletak tepat di atas Televisi di hadapanku. Foto pernikahan kami beberapa tahun lalu. Sepertinya sudah sangat berdebu.

But these place and these faces are getting old

Sudah lama sekali aku tidak pernah melihatnya, semenjak perceraian kami dua tahun silam. Mungkin sekarang ia telah mendirikan sebuah klinik sendiri di luar kota, dan hidup dengan bahagia bersama seorang laki-laki yang mampu menerima dirinya apa adanya. Bukan seorang lelaki pengecut yang bahkan selalu ragu dengan perasaannya sendiri, yang pernah menyakitinya.

Aku memang tidak menyesal telah melepasnya. Dan aku pun tak menyesal pernah dan masih mencintainya hingga kini.

I’m going home

Karmel, sedetikpun aku tak pernah melupakanmu. Melupakan kenangan kita. Lagu itu, wangi lavender, dan juga kopi ini.

Kuseruput kopi yang masih terlihat mengepul uapnya dengan hati-hati. Aroma yang sama seperti kopi khas buatan Karmel. Sebungkus kopi 2in1 dengan satu sendok gula.

Ah, sial! Sudah dua tahun ini aku membuatnya seorang diri, tapi entah kenapa tak bisa senikmat kopi buatannya.

I’m going home…

Ya, mau bagaimana lagi, Karmel memang tidak akan terganti.

∞∞

Sunday, March 4 2010